Archive for May, 2005

part seven

Monday, May 9th, 2005

Sejak saat itu aku jadi tambah deket dengan Via. Dan yang aku bicarakan Tyo terus. Tapi jujur saja aku tidak enak terus-terusan menanyai informasi tentang Tyo ke Via, keliahatannya aku teralu desperado. Makanya itu aku berusaha sendiri menggali informasi. Tapi sayangnya itu tidak mudah. Karena Tyo murid baru, tidak banyak yang tahu tentang dia. Diapun tidak mengikuti satupun ekskul di sekolah membuatku memeras otak memikirkan bagaimana caranya menarik perhatian dia. Tapi bukan Anya namanya kalau masalah sekecil ini tidak bisa aku selesaikan. Akupun menyusun strategi dari menanyai teman-temanku yang lain sampai aku rela menjadi panitia perpisahan kelas tiga. Semua itu aku lakukan secara diam-diam, Tyo tidak boleh sampai tahu. Dan itu membuahkan hasil yang memuaskan. Aku akhirnya tahu kenapa dia mempunyai tampang agak Jepang, dia begitu karena ia masih ada keturunan Jepang dari neneknya. Akupun juga tahu dia mempunyai seorang adik perempuan yang saat itu masih TK. Dan informasi yang menurutku sangat berguna adalah tipe ceweknya. Feminim dan berambut panjang. Dan bodohnya aku mau saja menghilangkan sikap sedikit tomboyku dan bersikap lebih elegan. Dan tentu saja aku berusaha memanjangkan rambutku.

Tidak puas dengan itu semua, dengan berbagai cara Aku berusaha berpapasan dengan Tyo. Sebenarnya aku sendiri bukanlah anak yang penakut, aku sama sekali tidak takut dengan apapun. Tapi satu hal yang membuat nyaliku ciut yaitu mengungkapkan perasaannya atau at least berkenalan dengan Tyo. Walaupun Via dan Utha berusaha membantuku berkenalan dengan Tyo, tetap saja Aku tidak berani.

Banyak kesempatan lain yang kupunya untuk setidaknya menyapa Tyo. Tapi mulutku terkunci. Aku juga sudah punya nomor telp rumah dan hpnya, tapi tetap saja aku merasa ketakutan. Takut Tyo akan membenciku dan menganggapku seorang phsyco. Terkadang aku ingin sekali aku mempunyai kekuatan menghilang agar aku dapat berada di sisinya tanpa rasa malu dan ketakutan.

Tapi ntah kenapa terkadang aku suka berfikir mungkin Tyo juga suka padaku tapi ia malu sama seperti diriku. Atau itu cuman keinginanku semata. Tapi aku sering mendengar teman-temannya berbisik saat aku melewati Tyo. Bahkan terkadang aku melihat Tyo melihatku dan tersenyum padaku. Aku tahu itu hanya kege-eran semata dan menganggap itu semua hanya bayangan saja. Mana mungkin seorang yang tidak saling kenal malah jatuh cinta satu sama lain. Itu hanya terjadi dalam dongeng saja bukan dalam dunia nyata. Aku tahu hal itu, hanya saja saat kamu sudah jatuh dalam lubang cinta maka akan susah untuk keluar dari lubang itu.

part six

Saturday, May 7th, 2005

Perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Ketenangan macam apa ini? Knapa aku merasa damai saat melihat cowok itu? Siapa cowok itu? Kenapa aku merasakan dua perasaan sekaligus yaitu tenang dan ketakutan? Pertanyaan itu terus mengelilingi kepalaku. Membuatku tidak focus ke pelajaran. Aku sering tidak mendengar panggilan teman-temannya, bahkan mereka mengataiku lemot plus budek. Dan tidak hanya itu, aku jadi sering senyam-senyum sendiri. Membuat orang-orang sekitarku bertambah binggung.

“Nya, lu kenapa sich akhir-akhit ini kayak orang bego?” tanya Milla

“Iya bner kayaknya sejak kita gak jadi dilabrak sama genk gentong itu lu jadi rada aneh dech?”tanya Via

“Gw sendiri juga rada binggung? Gw kenapa ya?”

“Gw tahu….lu lagi suka ama orang ya?” tanya Shelma

“Oh ya…Siapa?”tanya Rheyna

“Kasih tahu kita donk….,” pinta Utha

“Suka?? Kayaknya ngga dech…lu sok tahu dech Sel…”

“Anya!!!!gw pernah suka ama orang dan gw tahu gelagat kalo orang lagi fall in love, ya…kayak lu itu….”

“Masa sich? Gw emang lagi suka kepikiran ama seorang cowok sich….Jadi perasaan ini namanya suka ya?”

“Ya ampun!!!Anya lu tuch lemot abis. Masa hal kecil ini aja lu gak nyadar?!” kata Selma dengan nada marah.

“Siapa Nya?” tanya Utha

“Gw gak tahu namanya, tapi orangnya kayak sedikit mirip orang Jepang githu terus pake kacamata, agak tinggi kira-kira 163 cm dengan kepala hampir botak. Dia ada di kelas III-2. Mukanya tuch lucu banget dan ntah kenapa gw selalu kebayang tampangnya yang imut itu.”

“Aduh Anya kamu tuch lucu banget kalo lagi suka ama orang. Mau gw tanyain ama kakak gw gak?” tanya Via.

“Boleh!!Tapi….mba Alya jangan sampai tahu gw suka ya. Gw malu.”

“Tenang!!Serahkan pada Via.”

Esoknya, Via langsung menghampiriku dan memberitahu informasi yang ia dapat.

“Namanya Muhammad Setyo Adi Nugroho, biasa dipanggil Tyo. Dia murid pindahan waktu kelas dua dari Malaysia. Kata kakak gw bokapnya suka dimutasi keluar negri tapi berhubung sekarang bokapnya udah naik pangkat, satu keluarga kagak bakal dimutasi lagi. Itu doank yang baru gw tahu abis kakak gw langsung nanya kenapa gw nanya Tyo, daripada gw ember,gw langsung aza kabur masuk kamar.”

“Via, makasih banget…Lu emang temen gw yang baik banget. Namanya Tyo ya…ich lucu dech kayak orangnya…”

“Anya tolong dech.”

part five

Monday, May 2nd, 2005

Hari itu berjalan lama seperti biasanya, sama membosankannya seperti hari kemarin. Aku, Via, Selma, Milla, Rheyna dan Utha masih duduk di kelas dua, tapi sudah berlagak pemilik sekolah. Kerjaan kami hanya menggoda adik kelas dan menjahili mereka. Kami hampir tidak pernah takut dengan ancaman kakak kelas. Tapi bukan berarti kami anak rese tapi untuk apa takut, genk kelas tiga yang berkuasa waktu itu adalah genk kakaknya Via dan banyak kakak kelas yang suka dengan Rheyna jadi kami rasa wajar kalo kami tidak takut.

Tapi bukan berarti kami tidak diincar oleh kakak kelas. Aku ingat sekali hari itu, Rabu 19 September 2001, kami disuruh ke kelas III-2. Aku tidak pernah menyangka hari itu akan mengubah hidupku. Di kelas III-2 sudah ada beberapa kakak kelas cewek yang mukanya sangat jutek. Mereka memandang kami dengan tatapan sinisnya. Kami kenal dengan mereka, mereka biasa kami sebut genk gentonk karena badan mereka yang teralu bahenol dan pahanya yang besar-besar. Kerjaan mereka hanya mengerjai dan mengatai kami. Aku tahu mereka hanya iri pada tubuh kami yang kurus. Untuk menghilangkan rasa sedikit sebalku dengan mereka, aku melihat ke sekeliling kelas, mataku langsung terhenti melihat sesosok cowok tinggi kurus dengan kacamata yang tidak membuatnya tampak seperti kutu buku tapi malah kelihatan seperti cowok cool. Cowok itupun melihatku, dan selama beberapa menit kami saling bertatapan. Dan entah kenapa saat itu seakan-akan waktu terhenti hingga akhirnya aku tersadar dan menunduk malu. Kakak-kakak kelas yang bertampang jutek itu menyuruh anak-anak kelasnya keluar dan menutup pintu. Semua orang di kelas itu menuruti perintah kecuali satu orang, Noval.

“Emang lu mau ngapain mereka?”

“Kita mau labrak mereka!!!emang knapa?” balas Ilma,ketua genk Gentonk, kami menyebutnya begitu karena dia yang paling rese.

“Ya jelas gak boleh lah!!emang salah mereka apa?”

“Lu gak usah sok pahlawan dech, mentang-mentang lu mantannya Alya. Lu sok-sok nyalemetin adeknya. Gak guna taw!!”

Aku tidak terlalu mendengar lagi apa yang mereka ributkan. Hanya ada suara teriakan ‘kebun binatang’ dan setelah melalui perdebatan yang memakan waktu cukup lama, kami disuruh keluar. Aku tidak peduli dengan keadaan di dalam kelas itu. Saat itu aku hanya ingin melihat sosok cowok yang membuat hatiku berdetak kencang tapi tetap membuatku merasakan ketenangan