Part eight
Saturday, December 24th, 2005Hohoho…..Pada kangen gak ama novel gw??ngga ya….aduh jadi sedih….maap ya,,baru bisa sekarang…maklum gw kena sedikit masalah….komputer gw mesti d format ulang jadinya gw pikir data-datanya ilang termasuk nih novel gw….pada saat gw udah hopeless dan udah bwat versi barunya yang menurut gw kurang memuaskan…ternyata eh ternyata ada aza githu d komputer…
intinya mah….ini lanjutannya…..
Masa-masa menggebet Tyo adalah masa terindah yang pernah kualamin. Masa-masa yang tidak ingin kulupakan. Tiap hari aku dapat tersenyum lebar dan ketawa tanpa beban walaupun aku sedang dilanda masalah tapi hanya dengan melihat tampangnya yang lucu itu semua kepenatanku langsung hilang. Apalagi saat ia tertawa, ingin sekali ku cubit pipinya saking gemasnya aku. Seandainya waktu dapat berhenti saat itu saja. Tapi aku tahu itu semua teralu perfect dan tidak akan berlangsung lama jika aku tidak bertindak sedikitpun untuk mendapatkannya. Terlebih jika mendengar gebetan kita menyukai seseorang yang notabene sahabat kita sendiri. Mendengar gossip itu membuatku merasa ditusuk-tusuk oleh pedang yang sangat panjang dari belakang. Awalnya aku tidak percaya, aku hanya berfikir itu cuman gossip murahan. Lagian cuman gossip, blum jelas kebenarannya. Sampai akhirnya Selma mengatakan, “Nya, tadi gw baru ditembak ama Tyo, tapi gw tolak abis gw taw kalo lu suka banget ama dia. Jadinya…”
“Ya Allah Selma, lu gak perlu kayak gitu ama gw. Gw gak apa-apa taw kalo lu bdua jadian. Lagian siapa yang tergila-gila ama dy, gw biasa aza taw.”
“Tapi still, gw gak enak. Lu gak apa-apa kan?”
“Gak apa-apa kok. I’m fine. Eh, mendingan kita balik yuk daripada ditunggu ama yang lain didepan.”
“Okay dech.”
Seharusnya aku sudah menyadari hal ini sejak awal. Jelas sekali Selma termasuk tipe cewek idamannya Tyo. Dia punya rambut sebahu hitam yang indah dan sikapnya yang sangat cewek. Di tambah sejak aku menggebet Tyo, dia mulai dekat dengan Tyo. Mereka bahkan sudah sangat dekat tapi aku fikir mereka hanya sekedar teman tidak lebih. Dan Selma melakukan itu demi membantuku mendapatkan informasi tentang Tyo.Ternyata….Aku tahu, Selma tidak bermaksud menyakiti hatiku. Malah Selma membangunkanku dari mimpi-mimpi yang tidak akan mungkin menjadi kenyataan.
Sejak saat itu aku berusaha melupakan Tyo dan berlagak move-on. Padahal dalam hatiku, aku sangat terluka dengan keadaan yang ada. Aku tidak bisa menceritakan perasaannya kepada Via, Milla, Selma, Utha dan Rheyna, karena bagi mereka aku baik-baik saja. Aktingku cukup bagus di depan mereka, aku berlagak bahagia dan berpacaran dengan orang lain. Walaupun hubungan pacaranku tidak bisa berjalan lama karena bagaimanapun juga perasaan tidak bisa dibohongi. Hanya Etha tempat aku mencurahkan perasaanku. Kami memang tidak satu SMP bareng tapi kami tidak pernah losing contact. Etha dengan sabar menenangkan hatiku dan terus memberikan solusinya.
to be continued